• This is Slide 1 Title

    This is slide 1 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words. This is a Blogger template by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com...

  • This is Slide 2 Title

    This is slide 2 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words. This is a Blogger template by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com...

  • This is Slide 3 Title

    This is slide 3 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words. This is a Blogger template by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com...

Tuesday, May 31, 2016

Seorang Pendaki Di Evakuasi Dari Gunung Merbabu

Pada 31 mei 2016 Seorang pendaki wanita mengalami kecelakaan ke dua kaki terkilir saat turun dari puncak gunung merbabu , di bantu para relawan dan para rangger basecamp suwanting korban di tandu karena kaki tidak bisa di gerakkan , proses evakuasi mulai dari hutan manding sampai dengan Base camp suwanting ,

Alhamdulilah meskipun terkendala medan yang cukup berat korban berhasil sampai base camp suwanting kemudian menjalani perawatan,

Trimakasih untuk para relawan yang sudah membantu proses evakuasi , ,

Tradisi Mepasah Lereng Gunung Abang - Bali

Bliad_Tempat ini bernama Desa Trunyan. Terletak di kawasan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali. Trunyan merupakan desa terpencil di tepi Danau Batur, sehingga bagi para pelancong yang ingin memasuki Desa Trunyan mesti menyebrang menggunakan sampan melewati Danau Batur.

Desa Trunyan yang merupakan salah satu wilayah dihuni oleh Suku Bali Aga atau Bali Mula yang masih teguh memegang kepercayaan leluhurnya. Bali Aga atau Bali Mula merupakan suku bangsa yang pertama mendiami Pulau Bali. Hingga kini suku Bali Aga dan segala keunikannya masih dapat ditemui salah satunya di Desa Trunyan.

Dalam keseharian masyarakat Bali pada umumnya beragama “Hindu”, bila ada kerabat yang meninggal maka biasanya dilakukan kremasi atau mengubur jenazah tersebut sesuai dengan diajarkan oleh agama Hindu. Di Desa Trunyan, jenazah tidak dikubur atau dikremasi seperti yang umumnya terjadi di wilayah lainnya, masyarakat Desa Trunyan menyimpan jenazah kerabatnya yang telah meninggal di atas tanah, dengan ditutupi kain dan bambu yang disusun membentuk prisma. Masyarakat desa Trunyan menamakan upacara pemakamannya dengan istilah Mepasah.

Seperti yang telah disinggung di atas, bahwa dalam mepasah, setelah upacara pembersihan dengan cara dimandikan dengan air hujan, jenazah hanya digeletakan di permukaan tanah. Tempat pembaringan jenazah diberi lobang sekitar 10 hingga 20 cm agar posisi jenazah tidak bergeser akibat kontur tanah pemakaman yang tidak rata. Kemudian selain bagian wajah, bagian tubuh jenazah dibalut kain berwarna putih. Sebagai penanda, jenazah ditutup dengan bambu yang disusun membentuk prisma yang disebut ancak saji. Yang unik adalah meski pun jenazah diletakan di permukaan tanah, mayat tersebut tidak tercium baunya.

Jenazah tersebut diletakan di antara pohon Taru Menyan, taru berarti pohon dan menyan berarti harum. Kiranya, aroma yang keluar dari pohon taru menyan inilah yang dapat menetralisir udara di sekitarnya. Pohon yang mengeluarkan aroma khas yang kuat tersebut hanya dapat tumbuh di daerah ini, meskipun telah dicoba ditanam di daerah lain. Keunikan pohon ini agaknya telah menjadi cikal bakal nama desa Trunyan.

Di bawah satu pohon taru menyan, hanya dapat diletakakan maksimal sebelas jenazah. Hal tersebut sudah diatur oleh kepercaan adat setempat. Tetapi ada yang mengatakan bahwa satu pohon taru menyan hanya bisa menetralisir sebelas jenazah, jadi jika lebih dari itu maka jenazah tersebut akan mengeluarkan bau. Bila ada jenazah yang baru, maka maka satu jenazah yang paling lama akan dipindahkan, ke tempat terbuka, tidak ditutupi dengan kurung ancak saji lagi melainkan disatukan dengan dengan jenazah lainnya dalam tatanan batu atau di bawah pohon.

Maka tidak heran jika di tempat tersebut, terdapat tulang belulang dan barang-barang bekal sesaji seperti sandal, sendok, piring, pakaian, dan lain-lain berserakan di area pemakaman. Hal tersebut memang disengaja karena tidak boleh ada barang yang yang dibawa keluar dari area pemakaman ini.

Tetapi tidak semua jenazah dapat diperlakukan sama seperti yang telah disebutkan. Hanya pada kondisi tertentu saja jenazah dapat dimakamkan seperti ini. Syarat jenazah yang dapat dimakamkan dengan cara tersebut adalah mereka yang pada waktu meninggal termasuk orang-orang yang telah berumah tangga, orang-orang yang masih bujangan dan anak kecil yang gigi susunya telah tanggal, orang-orang yang meninggal dalam keadaan wajar dan tidak terdapat luka yang belum sembuh, serta memiliki bagian tubuh yang lengkap. Jika tidak memenuhi syarat tersebut, maka jenazah disemayamkan dengan cara dikubur.

Adat Desa Trunyan telah mengatur tata cara pemakaman untuk masyarakatnya. Terdapat tiga jenis sema (makam) yang berada di Desa Trunyan dan telah dibedakan berdasar umur orang yang meninggal, keutuhan bagian-bagian tubuh, dan cara penguburannya.

Area pemakaman pertama disebut sebagai sema wayah, tempat pemakaman yang dianggap paling baik dan paling suci, yaitu ketika jenazah dapat dimakamkan dengan cara mepasah. Jenis pemakaman kedua adalah sema muda, di tempat ini jenazah dikebumikan dengan cara dikubur, diperuntukkan bagi anak-anak atau bayi yang gigi susunya belum tanggal. Jenis ketiga adalah sema bantas, sama halnya dengan sema muda jenazah dikebumikan dengan cara dikubur, namun diperuntukkan bagi orang-orang yang Ulah Pati dan Salah Pati, yaitu pada saat meninggal masih meninggalkan luka dan penyebab kematiannya tidak wajar seperti kecelakaan, kehilangan nyawa disebabkan oleh tindakan orang lain, kehilangan nyawa karena sengaja, dan ada bagian tubuh yang tidak utuh.

ISB

Mungkinkah ? Gempa Darat Melanda Surabaya Dan Sekitarnya

Bliad.com_Gempa yang terjadi di Jogja 2006, Padang 2009, Bener Meriah Aceh 2012 dan gempa yang terjadi Selandia Baru 2007, Nepal 2015 dan yang terakhir terjadi di Kumamoto dan Ekuador 2016, semuanya gempa dengan pusat gempa di darat....dan beberapa orang menyebut gempa darat.
Saat gempa Jogja 2006 ada ilmu yang harus kita jadikan pelajaran penting di masa depan. Saat itu ada puluhan ribu rumah rusak, roboh rata dengan tanah dan membunuh  sebagian orang yang ada di dalamnya serta membuat cacat permanen banyak orang. Pada saat yang sama banyak juga rumah yang masih utuh dan menyelamatkan orang orang yg ada di dalamnya.

Hasul riset geologi terbaru yang dipublikasikan di Geophysical Research Letter mengungkap keberadaan sumber gempa di wilayah Jawa Timur. Sumber Gempa tersebut berasal dari Sesar Kendeng, patahan yang melintang sejauh 300 kilometer dari selatan Semarang, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur. Ada sejumlah rekaman kejadian gempa pada abad 19 yang diduga berasal dari sesar tersebut. Namun, ketiadaan gempa yang baru membuat para pakar tektonik berpikir bahwa Sesar Kendeng "tidak aktif".

Hasil kolaborasi peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB), Badan Informasi Geospasial (BIG), dan Australia National University (ANU) untuk pertama kalinya mengonfirmasi bahwa Sesar Kendeng masih aktif dengan pergerakan 5 mm per tahun. Selama ini gempa di Jawa Timur diasosiasikan dengan aktivitas subduksi di pantai selatan Jawa. Kini ada satu lagi sumber gempa yang harus diwaspadai.

Sesar Kendeng adalah "sambungan" dari Sesar Wetar dan Flores yang "merentang" hingga utara Bali, masuk ke daratan Jawa. Segmen yang berada di daratan Jawa - yang merupakan Sesar Kendeng - dan utara Bali dikonfirmasi sebagai patahan aktif dan bisa menimbulkan gempa. Hasil riset terbaru kami menunjukkan, pergerakan di sebelah utara (back arc Bali-Wetar) lebih aktif. Potensi gempa dari utara Bali hingga Pulau Wetar di atas magnitudo (M) 8.

GEMPA TIDAK MEMBUNUH

Negara Jepang merupakan Negara kepulauan relatip kecil dan terletak di kawasan geologi tektonik aktif dengan banyak gempa dan tsunami sama dengan negara kita. Karena kecilnya kepulauan maka masyarakat Jepang tidak punya pilihan lain, mereka harus menghadapi gempa dan tsunami tersebut. Untuk itu mereka mencatat, meneliti, mengembangkan sistem peringatan dini, mengembangkan bangunan tahan gempa, dan mensosialisasikan hasil penelitiannya. Sosialisasi kepada masyarakat tanpa kecuali baik kepada balita, manula, ibu-ibu hamil, maupun penyandang cacat dan lain-lain. Mereka melakukan gladi atau simulasi menghadapi gempa secara rutin dalam jangka waktu tertentu.

Karena sosialisasi sudah berlangsung lama maka masyarakat Jepang sudah terbangun budaya keselamatan, sehingga saat terjadi gempa mereka reflek akan bersembunyi di bawah meja sampai getaran selesai baru mereka keluar ruangan satu persatu. Tsunami Sendai pada Jumat tanggal 11 Maret 2011 Jepang dihantam gempa 9,0 skala Richter dan diikuti tsunami yang dahsyat, rusaknya infrstruktur, kebakaran hebat, dan rusaknya intalasi nuklir. Gempa dan tsunami ini mirip dengan yang terjadi di Aceh tahun 2004, nanti bisa kita bandingkan jumlah korban dan kerusakan yang terjadi. Tsunami di Aceh jumlah korban lebih dari 167.300 orang sedangkan di Jeang tidak lebih dari 20.000 orang.

KETIDAK TAHUAN DAN TIDAK MAU TAHU TENTANG GEMPA  BISA MEMBUAT KITA TERBUNUH.

SIAPA YANG BERTANGGUNG JAWAB? NEGARA ARTINYA SETIAP ELEMEN MASYARAKAT BERTANGGUNG JAWAB AKAN HAL INI, khususnya yang mengetahui masalah ini.

Kota Surabaya dan sekitarnya sudah harus mulai berbenah menghadapi GEMPA DARAT. Sumber gempa di selatan Jawa Tinur dengan Magnitudo (M) 8,51 harus juga diperhitungkan pihak provinsi Jawa Timur. Pemerintah Kota Surabaya dan Provinsi Jawa Timur bisa bekerjasama dengan perguruan tinggi di Jawa Timur untuk membentuk konsorsium penelitian gempa ini mengingat perguruan tinggi di jatim termasuk perguruan tinggi yg mandiri.

Sumber : Kompas

Monday, May 30, 2016

Gempa Merbabu Picu Sesar Aktif

gempabumi tektonik mengguncang lereng sebelah utara Gunung Merbabu (3.145 meter dpl). Hasil analisis BMKG menunjukkan bahwa gempabumi Merbabu terjadi pada pukul 05.34.11 WIB dengan kekuatan M=2,5 Skala Richter (SR) dengan episenter terletak pada koordinat 7,39 LS dan 110,42 BT, pada kedalaman hiposenter 9 kilometer.

Guncangan cukup kuat dilaporkan dirasakan di wilayah Desa Jogonayan Kecamatan Ngablak-Magelang yang berjarak sekitar 12 kilometer arah baratdaya Kota Salatiga. Episenter hasil analisis BMKG menunjukkan bahwa pusat gempabumi terletak terletak di zona sesar aktif yang terdapat di lereng utara Gunung Merbabu.

Meskipun guncangan gempabumi ini dilaporkan hanya mencapai skala intensitas II MMI (I SIG-BMKG), namun demikian sempat membuat warga Kopeng dan Ngablak panik. Ini disebabkan karena kekhawatiran warga yang selalu mengkaitkan setiap aktivitas gempabumi di lereng gunung sebagai aktivitas gunungapi. Beberapa pertanyaan sempat dilontarkan warga, apakah guncangan yang terjadi merupakan gempa vulkanik atau gempa tektonik?

Gempabumi yang mengguncang kawasan lereng utara Merbabu pagi tadi bukanlah gempa vulkanik. Ini tampak dari anatomi gelombang gempa yang tercatat oleh sensor gempabumi di Jepara, Semarang, Sleman, dan Gunungkidul. Seluruh catatan menunjukkan bahwa gempabumi yang terjadi merupakan gempabumi tektonik akibat aktivitas sesar aktif. Dalam catatan seismogram tampak jelas adanya selisih antara gelombang P dan S yang singkat, sekitar 8 detik, yang menunjukkan aktivitas gempa tektonik berkedalaman dangkal.

Berdasarkan peta geologi, kawasan lereng utara Gunung Merbabu memang terdapat sebaran struktur sesar. Pola penyesaran yang ada kebanyakan berarah utara-selatan, dan di antaranya memotong Gunung Telomoyo. Keberadaan sistem sesar di lereng gunung umumnya terbentuk akibat adanya fenomena gravity tectonics. Hal ini terjadi karena ketika massa batuan dan material erupsi dalam skala besar yang terjadi pada masa lalu menumpuk sebagai beban massa, maka terbentuklah struktur geologi berupa lipatan dan sesar dengan gaya internal yang dipicu oleh gravitasi Bumi.

Terkait dengan kuatnya guncangan gempabumi, maka dapat dijelaskan bahwa meskipun megnitudo gempabumi ini relatif kecil, hanya M=2,5 SR, tetapi guncangan dirasakan cukup kuat. Hal ini disebabkan karena di samping kedalaman hiposenternya yang dangkal, guncangan kuat dapat terjadi karena dipicu olah fenomena efek tanah setempat (local site effect).

Efek kondisi tanah setempat memang dapat menyebabkan terjadinya perbesaran getaran gempabumi. Hal ini sangat mungkin terjadi, mengingat kawasan Kopeng-Ngablak didominasi oleh lapisan tanah gembur dan berpasir serta batuan di bawahnya tersusun oleh lapisan tuffa (abu gunungapi) yang memiliki kepadatan bervariasi.

Terjadinya guncangan kuat juga dapat disebabkan oleh fenomena efek topografi, mengingat daerah ini sebagian besar medannya berupa perbukitan dengan kemiringan cukup terjal. Efek topografi terjadi berkaitan dengan meningkatnya percepatan getaran tanah akibat kondisi medan yang berbukit-bukit.

Terkait peristiwa gempabumi di lereng Merbabu tadi pagi, masyarakat setempat dihimbau agar tetap tenang, karena gempabumi yang terjadi merupakan gempabumi tektonik dengan magnitudo kecil, yang tidak akan menimbulkan kerusakan dan tidak membahayakan warga.***

Sumber : Daryono Kepala BMKG
Foto       : lokasi

Thursday, May 19, 2016

Laka Pantai Tambak Rejo Kab Blitar - Jatin

Laka laut di Pantai Tambakrejo Blitar sekitar jam 12.30 siang tadi. Informasinya, 3 siswa dari MTs Ma'arif Kauman Jombang tersapu ombak di Pantai Tambakrejo. 2 korban bisa diselamatkan atas nama Torinlo Bi Salam (15) & Ilham Hakiki (14) saat ini masih di Puskesmas Wonotirto, sementara 1 korban lagi atas nama Eka Tri Wulandari (15) hingga jam 16.45 sore ini masih dalam pencarian oleh Tim Kamladu (Keamanan Laut Terpadu) bersama para nelayan setempat.
Menurut Ganef Rahmawanto dari BPBD Kab Blitar, ciri2 korban Eka, tinggi badan 155 cm, berat badan 36 kg, memakai celana panjang warna hitam, kaos lengan panjang warna merah kombinasi putih hitam & berjilbab.

Sumber : Agus hariadi
Foto       : pantai tambak rejo

Saturday, May 14, 2016

Jenazah Mr X Mengapung Di Sungai Brantas - Mojokerto - Jatim

Pada pukul 11.00 informasi awal dari petugas Pusdalops BPBD Kab Mojokerto bahwa ditemukan jenasah mengapung di Sungai Brantas yang melintas di Ds. Betro, Kec. Kemlagi Mojokerto.

Pukul 11.10 WIB berdasarkan permintaan Kapolsek Kemlagi Akp. Subiyanto, kepada team Sukarelawan PMI Kabupaten Mojokerto untuk melakukan evakuasi.

Pukul 11.45 WIB jenasah dengan ciri-ciri sebagai berikut :
1. Jenis Kelamin : Laki-laki
2. Tinggi badan : 165 cm
3. Memakai kaos lengan pendek tidak berkrah(gulon) dengan warna putih dan pada lengan berwarna merah. Dan saat ditemukan hanya memakai celana dalam warna biru gelap.
Oleh Sukarelawan PMI Kabupaten Mojokerto guna proses penyelidikan lebih lanjut jenasah di evakuasi ke RSUD Dr. Soekandar, Mojosari Mojokerto.

Dimohon bagi siapapun warga yang kehilangan anggota keluarganya bisa berhubungan dengan Polsek Kemlagi atau Bagian Kamar Jenasah RSUD Dr Soekandar Mojosari Mojokerto.

Nb: Mhn informasi ini bisa disebarluaskan guna untuk bisa segera di ketahui identitas yang bersangkutan.

Tuesday, May 10, 2016

Proses Evakuasi Pendaki Gn Rinjani , Selesai

Setelah melaui perjalanan yang panjang dan medan ekstrim, akhirnya evakuasi jenazah Ike Suseta Adelia (26) asal Palembang yang tenggelam di air Kalak Gunung Rinjani selesai. Jenazah diserahkan oleh Basarnas Kantor SAR Mataram kepada pihak kepolisian di Pukesmas Anyar Lombok utara dan selanjutnya akan dibawa ke RS. Bhayangkara untuk otopsi.

Sebelumnya, Ike (korban) tenggelam di pemandian air panas Gunung Rinjani pada minggu sore 8/5/16. Jenazah korban baru ditemukan mengapung keesokan harinya.

Setelah tiba di Lokasi kejadian tim rescue Kantor SAR Mataram yang dibantu oleh potensi SAR dan para porter langsung mengevakuasi korban dari Lokasi kejadian. Proses evakuasi membutuhkan waktu selama dua hari dan sempat terkendala cuaca dengan hujan lebat.

Pada hari selasa 10/5/16 pukul 22.18 wita Jenazah korban berhasil dievakuasi sampai di pintu masuk Desa Senaru. (cak/hms).

Proses Evakuasi Korban Tenggelam di Gunung Rinjani , Terhambat Cuaca Buruk

Jenazah Ike Susesta Adelia, korban yang meninggal di pemandian air panas Gunung Rinjani sedang proses diturunkan (Evakuasi). Diperkirakan rombongan pembawa jenazah dari tim Search and Rescue (SAR) Mataram, akan tiba Rabu (10/5) dinihari.

Upaya membawa jenazah pendaki Palembang Sumsel ini dilakukan sejak Senin (9/5). lalu setelah ditemukan terapung di kolam pemandian air panas, Danau Segara Anak, Gunung Rinjani sekitar Pukul 09.15 Wita. Namun upaya terhalang cuaca buruk.

Menurut Kepala SAR Mataram, Nanang Sigit, PH.,SIP.,MM, cuaca saat itu tak bersahabat. Hujan lebat membuat tim SAR masih berada di sekitar puncak Rinjani, sehingga perjalanan terpaksa dilanjutkan Selasa pagi.

Dihubungi Selasa (10/5), Nanang Sigit mendapat informasi timnya dalam perjalanan menuju pos 3 Senaru. “Saat ini proses evakuasi /penurunan korban sampai Cemara Lima, dalam perjalanan ke pos 3 Senaru,” kata Nanang Sigit Selasa sore.

Ditunjukkannya beberapa gambar via WhatsApp , memperlihatkan tim SAR sedang dalam perjalanan evakuasi jenazah. Foto menunjukkan kerja keras tim menandu almarhum asal Palembang Sumatera Selatan ini yang dimasukkan dalam kantung jenazah.

Terlihat di gambar berbeda tim sedang beristirahat. Diinformasikan Nanang Sigit, cuaca tidak bersahabat disertai hujan lebat memperlambat proses penurunan jenazah. Apalagi tim SAR harus beristirahat. Tapi perjalanan tetap akan dilanjutkan. “Tim tidak istirahat dari Pos 3 Senaru, tapi langsung turun malam ini juga,” sebutnya. Sehingga diperkirakan rombongan pembawa jenazah akan tiba Pukul 01.00 Wita, dinihari nanti di Pelawangan, Kabupaten Lombok Utara (KLU). (bh)

Sumber : K N

Monday, May 9, 2016

SEORANG WISATAWAN TENGGELAM DI SEGARA ANAK GN RINJANI

Seorang wisatawan asal Palembang a.n Ika (26) (P) dilaporkan tenggelam di pemandian air panas danau Segara Anak Gunung Rinjani, minggu sore 8/5/16.

Menurut bapak Mustaan petugas (TNGR) Taman Nasional Gunung Rinjani, kejadian ini terjadi saat korban (Ika) bersama teman-temannya sedang berendam di Kalak atau tempat pemandian air panas, tiba-tiba korban berserta teman-temannya seperti tersedot arus saat semua teman-temannya keluar dari air tersebut justru Ika menghilang.  Seluruh pengunjung yang berada di tempat tersebut berupaya untuk melakukan pencarian namun hingga malam hari korban belum berhasil ditemukan. Selanjutnya kejadian ini dilaporkan ke Basarnas Kantor SAR Mataram.

Menindaklanjuti  laporan tersebut, satu tim rescue Kantor SAR Mataram dikerahkan untuk melakukan pencarian. Minggu malam tim berangkat menuju Desa Senaru dan paginya langsung menuju TKP.

Senin 9/5/16 pukul 10.15 wita jenazah korban dilaporkan mengapung dan langsung dievakuasi oleh teman-teman korban ke daratan. Sampai berita ini direlease, saat ini proses evakuasi sedang berlangsung dan diperkirakan memakan waktu sekitar 12 jam perjalanan menuju Desa Senaru, dan saat ini tim SAR terkendala cuaca dengan hujan lebat.

Sumber : cak/hms via KRI SBY

Saturday, May 7, 2016

Korban Kapal Tenggelam Di Kepulauan Seribu Di Temukan

Kapolres Kepulauan Seribu, AKBP John Weynart, memimpin pencarian korban kapal tradisonal yang tenggelam. Lima dari enam wisawatan yang hilang ditemukan tak bernyawa.

AKBP John Weynart mengatakan korban ditemukan mengapung terikat dengan senar pancing di Pulau Panggang, Pulau Pramuka, Perairan Pulau Air. “Pencarian korban kapal tenggelam yang sedang memancing sekitar 1,5 mil barat pulau panggang,” ungkap Kapolres, Sabtu (7/5/2016).

Evakuasi kapal tenggelam menurut Kapolres, lima jenazah langsung dievakuasi ke RSUD Pulau Pramuka. “Keluarga mereka sudah diberi tahu dan sudah mengenali anggota keluarganya. Dari mereka kami tahu identitas korban,” kata Kapolres.

Berikut identitas wisatwan yang ditemukan:
1. Doni Marsel (23), alamat Tamansari, Jakarta Barat.
2. Giok Sun (47) alamat Tamansari, Jakarta Barat
3. Fahrul Majid (35), alamat Tamansari, Jakarta barat
4. Sonson (45), alamat Tamansari, Jakarta Barat
5. Oki (56), alamat Tamansari, Jakarta Barat

Satu korban hilang, sambungnya, belum ditemukan atas nama Giokliong (58). “Kami masih mencarinya,” kata Kapolres.

Keenam orang itu menjadi korban saat perahu tradisional mereka tenggelam di perairan Kepulauan Seribu. Satu orang selamat dalam kejadian tersebut. Mereka menggunakan perahu itu untuk melakukan wisata memancing.
(Polda metro jaya)

Friday, May 6, 2016

BMKG Menerapkan Satuan Scala baru

mulai tanggal 06/05/2016 BMKG menerapkan satuan baru scala kegempaan di indonesia, scala kegempaan tsb dinamakan SIG BMKG /scala intensitas gempa bmkg, dan membagi kekuatan kegempaan menjadi 5 tahapan / bagian.

SCALA 1 DITANDAI WARNA PUTIH SCALA 2 DITANDAI WARNA HIJAU SCALA 3 DITANDAI WARNA KUNING SCALA 4 DITANDAI WARNA JINGGA SCALA 5 DITANDAI WARNA MERAH

utk memudahkan pembacaan scala kegempaan dlm penerapan awalnya aka disandingkan dgn scala MMI agar mudah dipahami masyarakat. mohon informasi ini di-share pada masyarakat luas.

Warga Balikpapan Meninggal Di Gunung Ijen - Jawa Timur

Seorang wisatawan Taman Wisata Alam (TWA) Ijen, meninggal dunia saat melakukan pendakian, Jumat (6/5/2016). Heru Purwanto (39) warga Balikpapan, Kalimantan Timur ini meninggal dunia, setelah mendapatkan pertolongan dan dibawa ke RSUD Blambangan Banyuwangi. Diduga, korban meninggal karena sesak nafas terkena serangan jantung. 

Sebelumnya, korban bersama dengan keluarga dan rekan kerjanya dari Kalimantan Timur berniat berwisata di TWA Gunung Ijen. Korban tiba di Paltuding sekira pukul 07.00 Wib. Lalu bersama dengan keluarga dan rekan kerjanya naik hingga ke puncak Ijen. Namun saat turun, korban merasakan sesak napas.

"Korban sesak napas saat turun dari puncak. Sempat ditolong diturunkan dari puncak dengan troli ke pondok Bunder. Dari sana turun pakai motor trail," ujar Kapolsek Licin, AKP Jupriadi Jumat (6/5/2016).

Setelah sampai area parkir Paltuding, kata AKP Jupriadi, korban langsung dilarikan ke RSUD Blambangan Banyuwangi. Namun sayang, setelah mendapatkan perawatan intensif, korban meninggal dunia. 

"Korban meninggal sekira jam 11.30 Wib. Polisi tidak melakukan otopsi karena keluarga korban tak bersedia. Kita hanya lakukan visum luar," tambah AKP Jupriadi.

Selanjutnya, jenazah korban langsung di kremasi. Dan diserahkan kepada keluarganya untuk dibawa pulang ke rumah duka di Balikpapan Kaltim.

Terkait dengan insiden ini, AKP Jupriadi menghimbau kepada wisatawan yang akan ke TWA Gunung Ijen untuk mengecek kondisi kesehatannya terlebih dahulu. Sebab saat mendaki Gunung Ijen membutuhkan kondisi fit dan sehat. 

"Kita imbau agar wisatawan untuk cek kesehatan dulu. Karena kalau terjadi apa-apa rumah sakit jauh dari Ijen," pungkasnya.(bdh/bdh /detik)

Thursday, May 5, 2016

4 Warga Demak Terseret Ombak Pantai Kedung Tumpang - Tulungagung - Jatim

Ijin melaporkan, pada Kamis tgl 5 Mei 2016 pkl. 11.00 WIB bertempat di Pantai Kedung Tumpang alamat Ds/ Kec. Pucanglaban Kab. Tulungagung telah terjadi kecelakaan terseret ombak laut selatan pd saat wisata & sampai saat ini korban masih dalam pencarian anggota Polsek Pucanglaban, Koramil 0807/ 19 Pucanglaban & masyarakat dpp AKP Reta Diana (Kapolsek Pucanglaban) & Kapten Inf Dwi Hari Santoso (Danramil 19 Pucanglaban), diikuti 30 orang anggota & masyarakat dg kronologis kejadian sbb :

A.  Pkl. 11.00 WIB rombongan sebanyak 8 orang pemuda asal Jawa Tengah sdg rekreasi di Pantai Kedung Tumpang alamat Ds/ Kec. Pucanglaban Kab. Tulungagung, sesampainya dilokasi mereka berpencar sedangkan 4 orang Sdr. Joko Budianto, Sdr. Imam Wahyudi, Sdr. Aris & Sdr. Imam melakukan foto selfi dibawah dekat air laut, kemudian datanglah ombak besar & menyeret korban ke laut.

B. Pkl. 11.10 WIB Sdr. Joko Budianto, Sdr. Imam Wahyudi berhasil menyelamatkan diri dg cara berenang menepi ke karang tepi laut sedangkan temannya Sdr. Aris & Sdr. Imam hanyut terbawa air laut.

C.  Pkl. 11.40 WIB anggota Polsek Pucanglaban, Koramil 0807/ 19 Pucanglaban & masyarakat melakukan pencarian korban di Pesisir Pantai Kedung Tumpang.

D.  Adapun kerugian akibat kejadian.
1. Personil :
a) Sdr. Joko Budianto umur 25 th, swasta alamt Ds. Jamus Mranggen Kec. Mranggen Kab. Demak Prop. Jateng mengalami luka lecet pd bagian kepala, tangan & kaki.

b) Sdr. Imam Wahyudi umur 24 th, swasta alamt Ds. Ringin Jajar Kec. Mranggen Kab. Demak Prop. Jateng mengalami luka lecet pd bagian kepala, tangan & kaki.  

c) Sdr. Aris umur 25 th, swasta alamt Ds. Sembungharjo Kec/ Kab. Semarang Prop. Jateng belum diketemukan diperkirakan meninggal dunia.

d) Sdr. Imam umur 25 th, swasta alamt Ds. Jamus Mranggen Kec. Mranggen Kab. Demak Prop. Jateng belum diketemukan diperkirakan meninggal dunia.

2. Materil : 4 buah hanphone hilang diperkirakan kerugian ditafsir Rp. 4.000.000,.

3. Untuk 2 orang korban selamat tersebut dirawat di Puskesmas Pucanglaban.

E. Sampai saat ini masih dalam proses pencarian & menunggu Tim Basarnas Kab. Trenggalek.

Tuesday, May 3, 2016

Sesar Kendeng Terbukti Aktif , Jawa Timur Perlu Lebih Waspada Gempa

Riset geologi terbaru yang dipublikasikan di Geophysical Research Letter mengungkap keberadaan sumber gempa di wilayah Jawa Timur.

Sumber Gempa tersebut berasal dari Sesar Kendeng, patahan yang melintang sejauh 300 kilometer dari selatan Semarang, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur.

Ada sejumlah rekaman kejadian gempa pada abad 19 yang diduga berasal dari sesar tersebut. Namun, ketiadaan gempa yang baru membuat para pakar tektonik berpikir bahwa Sesar Kendeng "tidak aktif".

Kini hasil kolaborasi peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB), Badan Informasi Geospasial (BIG), dan Australia National University (ANU) untuk pertama kalinya mengonfirmasi bahwa Sesar Kendeng masih aktif dengan pergerakan 5 mm per tahun.

Pakar tektonik Irwan Meilano dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yang terlibat riset mengatakan, "Hasil penelitian ini akan melengkapi peta gempa nasional."

Selama ini gempa di Jawa Timur diasosiasikan dengan aktivitas subduksi di pantai selatan Jawa. Kini ada satu lagi sumber gempa yang harus diwaspadai. 

"Surabaya dan kota-kota di sekitar Sesar Kendeng bisa terdampak aktivitasnya," kata Irwan kepada Kompas.com pada Rabu (27/4/2016).

"Sambungan" dari Sesar di Timur Indonesia

Dalam penelitian, Irwan Meilano dari ITB, S Susilo dari BIG, A Koulali dari ANU, dan sejumlah peneliti melakukan observasi data Global Positioning System (GPS) dari 94 stasiun di Indonesia timur dan data GPS dari jaringan global.

Data diolah dengan perangkat lunak GAMIT-GLOBK. Peneliti lalu melakukan pemodelan berdasarkan data yang diolah untuk mengungkap aktivitas tektonik.

Pada dasarnya peneliti meriset wilayah tektonik aktif yang disebut Sunda Banda Arc, mencakup wilayah Jawa bagian timur, Bali dan Nusa Tenggara, hingga ke perairan sekitar Timor Timur.

Hasil penelitian mengungkap bahwa Sunda Banda Arc terbagi atas tiga segmen, yaitu segmen Jawa Timur, segmen Sumba, dan segmen Timor.

Di bagian utara segmen-segmen itu, terdapat sumber-sumber gempa yang telah dikenal seperti Sesar Wetar di bagian utara Timor dan Sesar Flores di Nusa Tenggara.

Penelitian Irwan, Susilo, dan rekan menunjukkan bahwa Sesar Kendeng adalah "sambungan" dari Sesar Wetar dan Flores yang "merentang" hingga utara Bali, masuk ke daratan Jawa.

Baik segmen yang berada di daratan Jawa - yang merupakan Sesar Kendeng - dan utara Bali dikonfirmasi sebagai patahan aktif dan bisa menimbulkan gempa.

Dengan demikian, wilayah Bali pun perlu waspada. Patahan yang berada di utara Bali bila beraktivitas bisa menimbulkan tsunami walaupun skalanya mungkin tak sebesar di selatan Jawa.

( Yunanto W U /Kompas )

Gunung Api dan Peradaban

Indonesia punya banyak gunungapi aktif dan saat meletus bisa sangat menghancurkan seperti letusan G Toba 74 000 th SM telah menimbulkan kepunahan sebagian dari malhluk hidup, kemudian G Tambora 1815 mengakibatkan musim dingin berkepanjangan di negara negara Eropa, trus G Krakatau 1883 yg diikuti tsunami yg besar dst dst. Di Eropa ada G Vesivius 79 SM yang mengubur kota Pompeii dan menghilangkan dari peta.

Di Jogjakarta G Merapi telah memendam  candi padahal jaraknya puluhan km dari puncak G Merapi, seperti Candi Sambisari, Candi Kedulan dll. Terakhir ditemukan candi Kimpulan di Kampus UII Jogjakarta

Letusan G Vesuvius yang mengubur Kota Pempeii dan penghuninya tidak sempat lari sehongga mereka tercetak menjadi patung patung.

Mungkinkah Majapahit hancur/terpendam karena letusan G Kelud atau G Penanggungan atau karena Banjir K Brantas? Kita semua tahu bahwa Kerajaan Majapahit seperti "sirno ilang kertanin bumi" hilang amblas tertelan bumi dan penemuan situs sebagian besar terpendam dalam tanah.
( Amin W )

Sunday, May 1, 2016

MISTERI GUNUNG PENANGGUNGAN - JAWA TIMUR

Gunung yang tanggung dengan ketinggian 1600 m an dengan puncak yang gersang, sangat berbeda dengan gunung tetangganya.
Secara geologi G Penanggungan / pawitra ini merupakan gunung eksentrik yaitu gunung yang muncul di kaki gunung api yang lebih besar yaitu G Arjuno Welirang. Bagian punvak gunung ini merupakan material lepas dan yang "aneh" secara geologi adalah tidak banyaknya pohon di bagian puncak ini. Ini berbeda jauh dengan G Kelud yang baru saja meletus awal tahun 2014 dan sekarang hijau tertutup vegetasi.
Ada apa dengan batuan yang ada di puncak G Penanggungan ini . Ada yang bisa menjelaskan ?
Sumber : Prof amin W
Foto       : gn penanggungan via googel maps

GEMPA TIDAK MEMBUHUH

Negara Jepang merupakan Negara kepulauan relatip kecil dan terletak di kawasan geologi tektonik aktif dengan banyak gempa dan tsunami sama dengan negara kita. Karena kecilnya kepulauan maka masyarakat Jepang tidak punya pilihan lain, mereka harus menghadapi gempa dan tsunami tersebut. Untuk itu mereka mencatat, meneliti, mengembangkan sistem peringatan dini, mengembangkan bangunan tahan gempa, dan mensosialisasikan hasil penelitiannya. Sosialisasi kepada masyarakat tanpa kecuali baik kepada balita, manula, ibu-ibu hamil, maupun penyandang cacat dan lain-lain. Mereka melakukan gladi atau simulasi menghadapi gempa secara rutin dalam jangka waktu tertentu. Karena sosialisasi sudah berlangsung lama maka masyarakat Jepang sudah terbangun budaya keselamatan, sehingga saat terjadi gempa mereka reflek akan bersembunyi di bawah meja sampai getaran selesai baru mereka keluar ruangan satu persatu. Tsunami Sendai pada Jumat tanggal 11 Maret 2011 Jepang dihantam gempa 9,0 skala Richter dan diikuti tsunami yang dahsyat, rusaknya infrstruktur, kebakaran hebat, dan rusaknya intalasi nuklir. Gempa dan tsunami ini mirip dengan yang terjadi di Aceh tahun 2004, nanti bisa kita bandingkan jumlah korban dan kerusakan yang terjadi. Tsunami di Aceh jumlah korban lebih dari 167.300 orang sedangkan di Jeang tidak lebih dari 20.000 orang.
KETIDAK TAHUAN DAN TIDAK MAU TAHU TENTANG GEMPA  BISA MEMBUAT KITA TERBUNUH.
SIAPA YANG BERTANGGUNG JAWAB? NEGARA ARTINYA SETIAP ELEMEN MASYARAKAT BERTANGGUNG JAWAB AKAN HAL INI, khususnya yang mengetahui masalah ini.
( Prof Amin W )

TRIK MEMASAK NASI SAAT PENDAKIAN ALA BLIAD

Banyak orang memiliki trik dalam memasak nasi saat pendakian , ada yang di rebus biasa , di masak dengan santan , dengan bambu dll, tapi dalam pendakian kita juga memerlukan bagaimana cara memasak yang baik , benar dan efisien waktu ,
Kami biasa memasak nasi dengan membuat lontong berikut tips membuat nya :
LONTONG
Bahan :
1/4 kg beras putih. Cuci dengan air hingga bersih, setelah itu tiriskan dengan didiamkan beberapa saat hingga kering atau kesat.Plastik ukuran 1/4 kilogram, atau sesuai selera. Ambil beberapa buah, tusuk-tusuk plastik dengan tusuk gigi, supaya air bisa masuk dan lontong bisa masak.Air untuk merebus secukupnya
Cara membuat :
Isi plastik dengan beras yang sudah dipersiapkan sebanyak kira-kira 1/3 bagian saja, jangan sampai terlalu lebih banyak lagi.
Buat agar plastik menututp dengan jalan disulut pakai api lilin, atau menggunakan pres penutup plastik.
Persiapkan panci dengan diisi air secukupnya, masukkan lontong yang sudah disiapkan tadi. Rebus palig tidak selama 2 jam, atau selamanya 3 jam.
Lontong sudah siap diangkat apabila plastik sudah terlihat penuh padat berisi.Apabilan sudah selesai diangkat, tiriskan lontong sampai dingin.Sajikan lontong dengan sayuran kuah santan , sesuai dengan selera Anda.
Demikian cara praktis membuat lontong menggunakan pembungkus plastik, mudah dan bisa dilakukan oleh siapa saja.-
Mengapa kami memilih lontong , karena lontong tekstur lembut , aman buat lambung , mudah di cerna , bisa bertahan hingga 3 hari (jika udara dingin di bawah 20˚ C bisa bertahan 1 minggu) , air sisa rebusan busa buat seduh kopi , lontong mudah di kemas karena menggumpal
BLIAD

LOMBA KANO DI WISATA PULAU SANTEN - BANYUWANGI - JAWATIMUR

        Usai lomba rafting dan tubing, Banyuwangi menggelar kejuaraan kano. Perlombaan ini digelar Minggu (1/5) di pantai Pulau Santen, salah satu lokasi wisata di sisi Timur kota Banyuwangi.
Kejuaraan ini digelar Kodim 0825, Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI), Forum Relawan Bencana Banyuwangi, dan Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PODSI). Kano adalah perahu kecil dan sempit yang digerakkan dengan tenaga manusia. Kano berujung lancip pada kedua ujungnya dengan bagian atas terbuka.
Event yang  memperebutkan kategori  juara tercepat 100 meter speed ini tampak begitu diminati. Sebanyak 200 peserta yang terdiri atas pelajar, mahasiswa dan umum ini terlihat mempersiapkan diri dengan stretching bersama sebelum turun berkano. Warga pun tak kalah antusias untuk menyaksikan lomba yang baru digelar untuk pertama kalinya di Banyuwangi ini.
Dikatakan Komandan Kodim (Dandim) 0825 Banyuwangi, Letkol (inf) Roby Bulan, event ini digelar untuk menggali potensi atlet kano Banyuwangi, di samping sebagai promosi wisata. “Awalnya kegiatan ini terinspirasi dari keinginan untuk membangkitkan semangat dan motivasi berolahraga air bagi anak-anak muda Banyuwangi di salah satu pantai yang potensi wisatanya bagus. Banyak pantai sudah dilirik pemkab untuk dikembangkan. Nah, kini Pulau Santen ini jadi pilihan, sebab dari sisi lingkungan laut maupun daratnya cukup potensial untuk dikembangkan. Hanya perlu sedikit sentuhan saja supaya masyarakat sekitar dan pengunjung tergerak untuk menjaga kebersihan pantai ini,” ujar Roby.
Berolahraga kano di Pulau Santen, kata Roby, akan memberikan motivasi nilai kejuangan bagi atlet-atlet muda Banyuwangi. “Biasanya kano dimainkan di arus yang landai seperti di sungai, tapi kali ini di laut. Disini arusnya lumayan kuat. Jadi  peserta akan belajar untuk mengendalikan perahunya sekaligus mengendalikan emosinya,” senyum tentara asal Aceh ini.
Sementara itu, Wakil Bupati Banyuwangi Yusuf Widyatmoko mengatakan, pemkab sangat mengapresiasi kegiatan positif ini. “Ini yang disebut sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Sambil mengajak masyarakat untuk mencintai olahraga kano, kita juga bisa mengembangkan potensi Pulau Santen sebagai tempat wisata kebanggaan Banyuwangi,” kata Yusuf.
Dengan diadakannya event ini Yusuf berharap, perekonomian warga pun ikut meningkat. Warga sekitar, tukas Yusuf, jadi punya inisiatif untuk menjajakan hidangan kuliner khas pantai seperti seafood dan es degan hijau.
“Semoga kegiatan semacam ini bisa rutin dilaksanakan agar perekonomian warga Pulau Santen bergeliat. Dan yang paling penting, ini sebagai cara menjaring bibit-bibit atlet dayung kano Banyuwangi,” tutur Yusuf.
Saat perlombaan dimulai, peserta naik ke kano dengan  dilengkapi life jacket (rompi keselamatan) dan sebuah dayung. Dayungnya terdiri atas dua bilah, yakni ujung yang rata pada bagian kiri dan kanan. Peserta  terbagi atas kelas putra dan putri. Mereka adu cepat mendayung kanonya menuju garis finish yang jarak tempuhnya 100  meter.
Saat dilepas di garis start, para penonton pun bersorak menyemangati peserta. Tampaknya bukan perkara yang mudah. Tak semua peserta bisa dengan lancar mengarahkan perahunya. Ada yang berputar-putar karena sulit mengendalikan perahunya karena arus ombak dan hembusan angin. Namun ada pula yang dengan lempeng seperti tak ada masalah hingga tiba di garis akhir.
Salah satunya Rinda Natalia termasuk yang mengalami kesulitan saat lomba. Walau pun  sehari sebelumnya sudah berlatih di lokasi yang sama, ternyata pada hari H Rinda menemui kendala.
“Tadi saya susah mengendalikan perahu. Yang lain sudah melaju, saya masih muter- muter kena ombak dan angin,” ungkap Rinda tertawa sambil tetap menunjukkan semangatnya.
Meski terkendala di lapangan, Rinda mengaku tidak kapok ikut olahraga kano. “Saya seneng bermain kano. Apalagi ini olahraga baru yang seru dan mengundang rasa penasaran,” ujar mahasiswi Universitas PGRI Banyuwangi jurusan olahraga semester 4 ini. (Humas / Bwi T )

SISI LAIN PERTAPAAN GUNUNG KAWI

     Relief Tantri yang terletak di Pertapaan Gunung Kawi Bebitra. Daerah ini terletak di Desa Bitera, Kabupaten Gianyar. bantuan ini menceritakan tentang hubungan persahabatan antara Singa pinggala dan Lembu Nandaka.

Pada yang terakhir hubungan persahabatan ini terganggu oleh Anjing Sembada. Hal ini dapat dilihat dari karakter yang melengkung dalam bentuk singa, sapi dan anjing.

Penelitian ini diperoleh untuk mengetahui fungsi dan makna simbolik dari relief Tantri di Pertapaan Gunung Kawi Bebitra. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif sehingga menyelidiki masalah ini digunakan beberapa teori, yaitu: fungsi teori dan teori semiotika, sementara ada beberapa teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data, yaitu: observasi, wawancara, studi pustaka, Setelah itu digunakan juga beberapa analisis, yaitu: analisis kualitatif, analisis simbol, dan analisis banding.

Hasil penelitian yang digunakan untuk mengetahui bahwa fungsi bantuan Tantri di Pertapaan Gunung Kawi Bebitra memiliki dua fungsi, yaitu: estetika fungsi dan fungsi agama, dan makna simbolik tentang bantuan Tantri di Pertapaan Gunung Kawi Bebitra dijelaskan tentang cemburu, persahabatan, dan marah. Hal ini dapat dilihat dari cerita dan panil bantuannya.
(Handoko K )

PESONA CANDI TEBING TEGALLINGGAH - GIANYAR - BALI

Eksistensi candi di Bali sudah mafhum adanya karena memang Pulau Bali yang berjuluk Pulau Dewata ini mayoritas beragama Hindu dimana tempat ibadahnya di candi/pura.

Namun menjadi unik, malah mungkin aneh tatkala sebuah candi yang keberadaannya tepat di tebing sebuah sungai. Candi ini bernama Candi Tebing Tegallinggah dan termasuk situs purbakala yang baru beberapa tahun lalu ditemukan.

Adalah seorang ahli purbakala berkebangsaan Belanda yang berhasil menemukan situs sejarah yang kaya akan nilai historis-filosofis ini di sebuah tebing Sungai Pakerisan, Gianyar, Bali.

Krijsman menemukan candi ini saat tengah melakukan penggalian penyelidikan terhadap sebuah bangunan kecil yang sebelumnya hanya dianggap gapura biasa saja oleh penduduk setempat.

Nilai Historis Berpadu dengan Keindahan Alam

Anda yang ingin melihat bangunan Candi Trebing Tegallinggah ini terlebih dahulu akan dibawa untuk menuruni tangga sebelum akhirnya sampai ke lokasi. Namun jangan khawatir akan mudah lelah karena pemandangan alam di sekitarnya begitu indah berupa hamparan sawah yang berumpak khas Bali.

Semilirnya angin pesawahan akan membuai Anda dan mendadak membuat lupa bahwa Anda tengah menuruni puluhan anak tangga.

Candi ini terpahat di dua sisi tebing yang berseberangan karena dipisahkan oleh aliran sungai Pakerisan, dimana pada masing-masing dinding terdapat bentuk candi serta sejumlah cerukan yang berbeda.

Semula penduduk desa setempat hanya mengetahui sebuah bangunan yang hanya berupa gapura masuk saja, namun setelah digali terdapat sebuah tangga menuju keatas di dalamnya.

Di sebelah kanan gapura ini terdapat gapura yang lebih besar namun sebagian telah runtuh, dimana pada bagian belakang gapura ini terdapat sebuah halaman yang pada dindingnya terpahat  dua buah candi.

Sedangkan di sebelah kiri gapura terdapat bangunan biara yang belum selesai, kemungkinan besar ditinggalkan karena adanya bencana alam gempa bumi. Pada candi ini juga ditemukan tujuh cerukan serta tiga lingga yang melambangkan “Trimurti” atau Dewa Utama, yaitu Dewa Brahma, Dewa Wisnu dan Dewa Siwa.

Adapun cerukan yang ada merupakan tempat yang pada sisi lain dari kosmologi Hindu digunakan untuk mendekatkan diri pada Sang Hyang Widhi (pertapaan).

Lokasi Candi Tebing Tegallinggah berada di Dusun Tegallinggah, Bedulu, Kabupaten Gianyar, Bali.

( handoko k )

EKSOTIS CANDI TEBING JUKUT , CANDI DI TEPI JURANG KAB GIANYAR - BALI

Candi Tebing Jukut Paku yang berada di Kabupaten Gianyar. Candi berusia tua ini berada tepat dilereng jurang yang terjal dan dalam. Candi ini merupakan salah stau benda peninggalan purbakala yang sudah selayaknya dilestarikan dan dilindungi sesuai dengan ketentuan UU No. 11 tahun 2010 oleh Dinas Pelestraian Peninggalan Purbakala Bali. Sehingga semua pihak, terutama otoritas setempat sudah sewajibnya untuk melindungi candi yang menjadi kebanggaan masyarakat di Singakerta.

Karena posisinya yang berada tepat dilereng jurang maka untuk menjangkaunya pengunjung harus menuruni tangga yang berjumlah sekitar 68 buah. Pada bagian tengah terdapat pahatan menyerupai bentuk candi. Di bagian samping ceruk terdapat sumber mata air yang mengalir jernih tidak habis-habisnya.
Pemandangan dari sini sangat menakjubkan karena akan tampak aliran Sungai Kerisan yang bergerak sampai jauh dengan sisi-sisinya kawasan perbukitan nan hijau. (Handoko k )

SELAIN CANDI JUGA DI TEMUKAN PENINGGALAN PURBAKALA DI GN BUTAK JALUR PENDAKIAN SIRAHKENCONG KAB BLITAR - JATIM


Selain itu di daerah Sirah kencong ditemukan beberapa peninggalan purbakala diantaranya empat buah patung raksasa (dwarapala) dengan ukiran yang sangat sederhana, Dwarajala yang berwujud bunga teratai, beberapa umpak persegi empat atap candi, kemuncak candi, tempat air dari perunggu, dua lampu perunggu yang semuannya disimpan di Museum Pusat Jakarta (inventaris museum no 3685, 3688, 3692, 4385).

Kecuali itu pada tanggal 7 September 1976 diketemukan Dwarapala kecil dengan ukuran tinggi 32 cm, lebar dan panjang 22cm dan lingkaran badannya 70 cm dari dukuh Tempursari, Sirah Kencong (Knebel, I910), dua buah inskripsi bertahun 1389 dan 13…. (dua angka puluhan aus), serta sebuah pancuran gunung dari batu (jaladwara). Dilihat dari gaya jaladwara tersebut memberikan petunjuk adanya persamaan gaya pahatan dari abad ke XI-XII (Nurhayati, 1978: 53-56).

Jaladwara yang dipahat terdiri dari landasan gunung yang berupa sebuah teratai, bunga teratai ganda yang bulat, diatasnya menggambarkan kura-kura, dengan kepala menengadah, diatas kura-kura itu berisi gunungan yang terdiri dari tiga bagian yaitu dewa yang saling bergandengan, melingkari gunung tersebut. Seekor naga membelit bagian bawah gunung itu, sedangkan kepala naga tersembul searah dengan kepala kura-kura, sehingga kedua kepala bersusun menghadap kemuka. Badan naga terbelit diatas dewa-dewa tersebut. Bagian puncak gunung terdiri atas lima bulatan yang menyerupai mahkota pancuran gunung. Sebagai latar belakang relief yang menggambarkan naga dan dewa-dewa ini, yang terdiri dari motif batu karang serta flora. Dengan motif itu memberi kesan suasana gunung dengan hutan serta hewan-hewan.

Selain itu terdapat Prasasti Tinulad Ukir Negara ditemukan oleh pekerja perkebunan Komplek Ukir Negara dan diserahkan oleh administrasi perkebunan tersebut yaitu bapak M.S. soewandhi di kebun milik Komplek Ukir Negara di Desa Sirah Kencong, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar. Lempengan-lempengan ini ditemukan bersama-sama sebuah guci bercuping 4. Prasasti Ukir Negara terdiri dari 8 lempeng tembaga, yang dibagi menjadi 3 bagian, beraksara dan berbahasa Jawa Kuno (Issatriadi, 1975: 1-2 ; Suhadi, M & Richandiana. K, 1996: 8-12).